GALHARCHIVE
Back to archive
Short StoryAugust 6, 2026·4 min read

Cita-cita Yang Terkenang

Refleksi tentang perjalanan seseorang yang tumbuh bersama cita-cita, namun akhirnya menemukan jalan hidup yang berbeda.

Cita-cita Yang Terkenang

Tanggal ditulis: 06 Agustus 2026

Kalau mengingat masa kecil, ada satu kebiasaan yang selalu membuatku betah menghabiskan waktu sendirian: menggambar.

Entah menggambar rumah, bangunan, atau sekadar mencoret-coret kertas hingga penuh. Saat teman-teman bermain di luar, aku justru sering larut dengan pensil dan penggaris. Mungkin sejak saat itu, tanpa kusadari, aku mulai menyukai dunia arsitektur.

Bahkan dulu, ketika diminta menuliskan cita-cita, jawabanku sederhana: ingin menjadi seorang arsitek.

Berikut salah satu foto yang masih tersimpan hingga sekarang.

Foto Saya

Seiring bertambahnya usia, aku mulai mengikuti beberapa perlombaan menggambar. Tidak semuanya berakhir dengan kemenangan. Ada yang gagal, ada yang biasa saja, tetapi ada juga yang meninggalkan kenangan membanggakan.

Salah satunya ketika masih duduk di bangku MTs. Saat itu aku berhasil meraih Juara 2 dalam sebuah perlombaan. Setelah lomba selesai dan masa kelulusan semakin dekat, guru pembimbingku berkata,

"Nanti setelah lulus, coba lanjut ke SMK jurusan Gambar Teknik."

Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa begitu membekas. Rasanya seperti seseorang sedang menunjukkan arah yang selama ini memang ingin kutuju.

Dan benar saja, setelah lulus aku melanjutkan pendidikan di SMK jurusan Teknik Gambar Bangunan.

Hari-hari di sana terasa menyenangkan. Aku belajar menggambar dengan cara yang jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Tidak lagi sekadar membuat sketsa, tetapi memahami ukuran, proporsi, detail konstruksi, hingga merancang sebuah bangunan yang layak diwujudkan.

Salah satu hasil belajar yang masih kusimpan adalah desain rumah berikut.

Desain Rumah

Mungkin jika dilihat sekarang hasilnya masih sederhana. Namun setiap garis di dalam gambar itu menyimpan proses panjang. Ada banyak malam yang dihabiskan bersama penggaris, pensil mekanik, penghapus, dan lembar gambar yang berkali-kali diulang karena satu garis saja terasa kurang presisi.

Semua proses itu akhirnya mengantarkanku lulus dengan predikat peringkat empat terbaik di angkatan.

Saat itu aku benar-benar merasa sedang berada di jalur yang tepat.

Bahkan setelah lulus, sempat datang kesempatan bekerja di bidang yang sangat sesuai dengan apa yang kusukai. Meski lokasinya cukup jauh, aku hampir yakin akan mengambil kesempatan itu.

Namun ternyata hidup tidak selalu berjalan mengikuti rencana yang kita susun.

Restu orang tua belum mengizinkan. Kesempatan itu akhirnya kulepaskan, dan aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah dengan persiapan yang bisa dibilang sangat sederhana.

Singkat cerita, aku diterima di jurusan...

Fisika.

Kalau dipikir sekarang, kadang aku masih tertawa sendiri.

Dulu begitu yakin ingin menjadi arsitek. Belajar menggambar bertahun-tahun. Masuk SMK yang sesuai minat. Bahkan hampir bekerja di bidang tersebut.

Tetapi sekarang, aku justru menghabiskan hari-hari bersama rumus, eksperimen, sensor, dan alat ukur.

Dua dunia yang sekilas tampak sangat jauh.

Namun semakin dewasa, aku mulai menyadari bahwa hidup memang tidak selalu mengantarkan kita ke tempat yang kita rencanakan. Kadang ia justru membawa kita ke tempat yang belum pernah kita bayangkan.

Lucunya, ilmu menggambar itu ternyata tidak benar-benar hilang. Sampai sekarang aku masih sering memanfaatkannya untuk mendesain antarmuka aplikasi, membuat ilustrasi, menyusun dokumentasi proyek, atau sekadar menuangkan ide di atas kertas.

Mungkin cita-cita itu tidak benar-benar gagal.

Ia hanya berubah bentuk.

Kini aku berada di semester tujuh. Ketika melihat ke belakang, rasanya perjalanan ini seperti sebuah garis yang awalnya tampak patah-patah. Setiap belokan terasa seperti keputusan yang salah. Setiap perubahan arah terasa menjauh dari impian masa kecil.

Namun setelah semua dilewati, justru garis-garis itu mulai saling terhubung.

Aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus diwujudkan persis seperti yang kita bayangkan. Ada yang memang menjadi tujuan. Ada pula yang hanya menjadi bekal untuk mengantarkan kita menuju tujuan lain.

Mungkin Tuhan tidak pernah menghapus cita-cita masa kecilku. Ia hanya meminjamnya sebentar untuk membentuk cara berpikirku, melatih ketelitianku, mengajarkanku kesabaran, lalu mengembalikannya dalam bentuk yang berbeda.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa lurus jalan yang kita tempuh.

Melainkan tentang bagaimana setiap jalan bahkan yang terasa menyimpang tetap memiliki makna ketika kita melihatnya dari ujung perjalanan.

Dan mungkin, itulah cara Tuhan mengajarkan bahwa takdir bukanlah lawan dari impian. Takdir adalah jalan yang membuat impian kita bertumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan.


Catatan

Tulisan ini adalah pengingat untuk diriku sendiri.

Bahwa tidak semua yang kita cita-citakan harus berakhir menjadi profesi. Ada mimpi yang memang diwujudkan, ada pula yang hanya singgah untuk membentuk siapa diri kita hari ini.

Dan mungkin, semua pengalaman yang pernah kita jalani tidak pernah benar-benar sia-sia. Karena setiap langkah, sekecil apa pun, selalu ikut menyusun cerita yang kelak akan kita syukuri.


© GalhArchive